Kamis, 22 Oktober 2009

SURGA ITU, ADA DI MERU BETIRI


Siang itu cukup panas (18/10/09). Serasa matahari menjadi mesin oven, dan manusia ibarat kue yang cukup beberapa menit saja untuk menanakkannya. Setiba ngopi di mak, di pedalaman Jl. Jawa 4 Jember, saya dan kawan karib saya Chus, tiba-tiba terbesit rencana lama yang belum terealisasi. Sekitar adzan dhuhur, kesepakatan itu terjadi. Kesepakatan bersafari ke Taman Nasional Meru Betiri, Tidak asingnya disebut Bande Alit, tempat konservasi sumber daya alam. Tempat perlindungan berbagai jenis tanaman dan hewan-hewan langka. Seperti banteng, harimau, babi hutan, rusa. Dan tempat dimana keindahan itu berada.
“Tapi sebelum brangkat, tak selesaikan Undangan tentir dulu yo”. Ungkapku menyetujui.
Setelah istirahat sebentar dari obrolan ngopi, kami langsung pergi ke Prima, dalam waktu cukup singkat, undangan belajar bareng UTS (Ujian Tengah Semester) selesai di Print. Sudah biasa ketika ujian akan datang, bersama kawan-kawan melakukan rutinitas untuk belajar bareng, dengan harapan saat Ujian kita mampu mengerjakan soal-soal dosen yang cenderung teks book.
“Cukup 50 ribu berdua”?. tanya Chus setelah mengambil uang dari mesin duwek (ATM)
“Cukup, yang penting kita tidak banyak beli makan” terangku.
Melihat Jam ditanganku menunjukkan pukul 14.15 WIB, kami langsung meluncur. Dengan menyela-nyela ingatan arah jalan yang mulai memudar, kami cukup Optimis, mampu mencapai tujuan yang kami harapkan. “kan due lambe, kita nanti bisa tanya orang-orang di jalan, yang penting usaha dulu”. Celetukku.
Tiba memasukki gerbang Meru Betiri, saking semangatnya kami langsung nylonong saja, tidak menghiraukan pos petugas, yang menghimbau seluruh wisatawan, untuk lapor.
“dek..dek..mau kemana”?. panggil petugas dengan kesal, melihat tingkah kami. “Lapor dulu dek, sebelum masuk, dan harus bayar karcis dulu” imbaunya.
Dengan sedikit malu, saya langsung meyodorkan uang lima ribuan “Oh…maaf Pak, kami kira bisa langsung masuk, kami mau mancing Pak”. Ungkapku dengan bumbu apologi.
“Hati-Hati dek ya!, soalnya kemarin (menjelang hari raya Idul Fitri) ada yang terseret ombak, dan kalau mancing sebelah timur saja ya, sebelah barat ombaknya besar”. Tambah Pak petugas. Mendengar itu, saya sedikit gusar untuk dekat-dekat pantai, maklum laut di Bande Alit, termasuk kawasan pantai selatan, yang langsung bersentuhan dengan samudra Hindia.
Setelah itu, langsung kami melanjutkan setengah perjalanan lagi, sebelum sampai di kawasan pantai Meru Betiri, sebelumnya kami harus melewati medan jalan yang membuat kami menghela nafas panjang. Hampir separuh perjalanan dari gerbang masuk, bebatuan terjal, cukup menghambat gelindingan ban motor butut kami. Tetapi terjalnya jalan itu, semakin meyakinkan kami bahwa Meru Betiri cukup alami dibandengkan kawasan hutan yang lain.
Disepanjang jalan, heterogenitas pohon-pohon besar, mengantarkan angin gunung yang siap menyapu keringat kami. Ah..segarnya, “Alam memang menawarkan segalanya” geliat otakku, yang sebelumnya jenuh dengan hiruk-pikuk kampus.
“Drul, photo Drul” seru Chus ingin mengabadikan perjalanannya dalam gambar. Disamping papan nama dibalik pagar hijau yang menginformasikan, bunga yang cukup terkenal “Raflesia”, atau bunga bangkai yang awal mula ditemukan di Kalimantan oleh orang Belanda “Raflesia Arnoldi”. Tetapi kami tidak sempat mengintip wajah bunga itu, tanjakkan tangga ditempat itu, namPaknya cukup memakan waktu panjang, sedangkan perjalanan kami masih panjang.
Jam 16.30 WIB, kami lapor ke pos kedua, mengisi buku laporan dan sedikit senyum cukup mengakrabkan kami dengan para petugas. “Dari mana mas, kesini dalam rangka apa”? tanya sama dengan petugas sebelumnya.
“Dari UNEJ Pak, mau mancing katanya disini ikannya besar-besar”. Jawab kami.
Pukul 16.40 WIB, akhirnya kami menaPakkan kaki kami, di salah satu ujung dunia “pantai Bande Alit”, pantai yang biasanya hanya bisa kita lihat di situs internet akan keindahannya. Luar bias, Nusantara, memang benar apa yang dituturkan baPak dan ibu guruku waktu SD, Indonesia indah kaya raya, membentang sepanjang khatulistiwa, ombak pantai selatan yang berdendang bersama nyanyian para nelayan. “Alam Indonesia adalah berkah Tuhan”. Jangankan dilaut, dijajaran terumbuh bakau saja, udang dan ikan keleleran, apalagi dilaut.
Ditemani camar, kami menyusuri pantai. Senja pun ikut menghias perjalanan kami, yang malu-malu sembunyi sedikit demi sedikit ke balik bukit. Sungguh lukisan alam itu begitu indah, mengalahkan nilai artistik wajah Monalisa. Namun, besarnya ombak terus mengingatkan kami tentang apa yang disampaikan para petugas, kami cukup memandangi tubuh mereka dari kejauhan saja. Kami hanya menyalamkan kaki kami, dengan putihnya kulit bui yang diantarkan ombak menepi.
Petang pun, mulai menyeruak. Pupil mata kami, semakin lebar, mencari dimana ada cahaya. Hanya ada satu cahaya ditengah-tengah laut, mungkin uplik para nelayan. Bintang sore yang menyapa kami pun beberapa saja.
Hening, tak seperti nuansa kota Jember yang dimandikan cahaya apalagi di alun-alun, cahayanya menantang langit, menyamarkan bintang kejora dari pandangan para penikmat kopi di depan kantor bupati.”Ayo kembali ke perkampungan, kita cari masjid dan tempat makan, untung-untung ada yang beri tumpangan bermalam,” Ajakku.
Saat lampu motor mulai menyala, kami sangat kaget, kami mendapati dua hewan besar bekejaran “Macan Drul!, ”. Sentak Chus. “Seng bener!,” Tandasku. Kami belum bisa memastikan aPakah itu benar sang raja hutan, cukup samar. “Badannya kekar, lehernya rata dengan kepalanya”. Terang Chus lagi.
Tidak mau mengambil resiko lebih besar, akhirnya Chus menawarkan ide “Jalannya mulus ga’, kalau iya, kita langsung ngebut saja,”. Tawar Chus. “Ya lumayan, ayo langsung saja, yang penting nanti bisa sampai perkampungan,”. Tegasku. Akhirnya kami pun terbirit-birit sambil deg-degan. Dan Alhamdulillah, kami sampai di perkampungan.
“Drul, ada kantor informasi, kita coba numpang situ” sahut Chus, ketika kami mendapati kantor polisi kehutanan.
Kami mendapati dua pria bercengkerama di ruang tamu kantor itu “Assalamu’alaikum, Pak kami kemalaman, numpang menginap bisa Pak,” Tanya kami dengan terbata-bata.
“Mangga, dari mana,”?. Jawab polisi itu.
“Kampus Pak, FISIP UNEJ,?”. Jawab kami.
“Dari MAPALUS,”. Tambah baPak itu.
“Bukan Pak, kami bukan dari MAPALUS,”. Sahut kami. Sudah biasa Meru Betiri, sering dikunjungi para pecinta alam, khususnya mahasiswa dari UNEJ, yang aktif dalam organisasi pecinta alam. Seperti Mapalus (FISIP), Gemapita (FKIP), Bekisar (FE) yang diceritakan Pak Budi SP. Mereka kesana, biasanya untuk pelatihan ataupun penelitian tentang konservasi alam.
Dua lelaki itu, dilihat dari kerutan di keningnya bisa disimpulkan, sekitar berumur 60 tahun, namun segarnya angin gunung membuat mereka tamPak masih enerjik. Dengan senyum, mereka menyuruh kami untuk masuk ruang kerja mereka. Dalam celetuk hati, kami cukup bersyukur, dibekali ilmu public relation, walaupun baru bertemu beberapa menit, canda-gurau tak terelekkan lagi. Kami pun mengobrol panjang lebar dengan Pak Budi dan Paijan.
Sesaat setelah kami duduk di keramik putih itu, Pak Budi langsung memberikan pinutur kepada kami, “kalau jadi orang, ojo dumeh,”. Dia menceritakan kepada kami, tidak adanya tempat bagi tamu yang “Adigang-adigung-adiguno”, dalam artian tidak santun, sebelumnya kami tidak faham dengan apa yang dimaksud Pak Budi, kami kira kami terlalu sombong bagi mereka, tetapi setelah mendengarkan kelanjutan cerita Pak Budi dan diperbolehkannya kami menginap semalam, kami baru sadar, Pak Budi tidak berharap ketidak sopanan itu ada didiri kami. Sebab dulu ada beberapa mahasiswa tidak diperkenankan menginap, walaupun mereka jauh-jauh dari luar propinsi, karena membuat kotor dan tidak punya unggah-ungguh. Kami tidak tahu jelas, apa yang dilakukan para mahasiswa yang diceritakan Pak Budi, hingga mereka tidak mendapatkan bantuan menginap di pos informasi itu. Dan tidak mau seperti nasib para mahasiswa itu, kami mencoba bersikap sesopan mungkin, dengan harapan tidak menyinggung tuan rumah, maklum setiap individu dan masyarakat itu, mempunyai ukuran norma-norma tersendiri.
Perbincangan kami cukup panjang, apalagi dengan kedatangan Pak Budi SP (kepala lahan konservasi tersebut), namanya mirip ‘Budi’. Saat dia datang, perbincangan kami semakin menarik, apalagi ketika Pak Budi SP mencerikan tentang tanaman-tanaman obat yang ada di Meru Betiri. Menurut Pak Budi SP ada sekitar 500 jenis tanaman obat-obatan dari total sekitar 2000 tanaman yang ada di Indonesia. Selain itu Meru Betiri meruPakan salah satu lahan konservasi yang dijadikan percontohan, lahan-lahan konservasi diseluruh Indonesia.
Tidak hanya tentang alam, Pak Budi SP pun mengomentari pedas tentang sinetron yang ada di Indinesia “Saya itu tidak suka dengan Sinetron kebanyakan, kalau ceritanya tidak rebutan harta ya..rebutan gendaan (pacar), saya lebih suka film perang dek,”. Tuturnya.
Tetapi cerita yang paling menarik, tentang kelucuan “Gomblo” nama salah satu rusa yang dilindungi di wilayah tersebut, Pak Budi SP menceritakan bahwa kehidupan masyarakat disini (Meru Betiri), sudah menyatu dengan masyarakat, mereka akan marah kalau hewan-hewan yang ada di daerah itu di lukai apalagi dicuri. Seperti yang diungkapkan ibu Aminah, saat kami membeli mie goreng untuk makan malam “Jangan coba-coba mencuri apapun dari sini, kalau masih ingin kembali”. Masyarakat disana namPaknya, sangat menyayangi hewan-hewan itu. Bahkan Gombloh, ketika mendekat ke pemukiman penduduk, masyarakat akan memberikan makanan yang mereka punya seperti nasi, buah dan lain-lain. Walaupun sebenarnya kondisi mereka bisa dibilang miskin, kalau dibandengkan dengan penduduk yang ada di wilayah Jember yang lain. Rumah mereka, masih terbuat dari bambu. listrik pun belum masuk, masih menggunakan genset, itupun cuma sebentar, sekitar jam 18.00 WIB dan mati pukul 21.30 WIB. Pendapatan penduduknya saja, hanya Rp. 6.500, itu didapatkan dari kerja diperkebunan jam 07.00 WIB-12.00 WIB.
“Satu ilmu baru Drul” kata Chus. Tiba-tiba Pak Paijan mengajak kami berburu udang di muara, kami tidak menyangka, di air bening dan tenang itu, yang sore itu, kami gunakan untuk cuci muka. Ada udang yang besar-besar, gumanku “Seperti tambak di daerahku Gresik” perbedaannya, kalau di tambak udang-udang itu harus di pelihara diberi makan setiap hari, tetapi di muara itu, udang-udangnya berkembang dengan sendirinya, pokoknya tanaman bakau yang menghimpit muara itu tidak dirusak. Seperti di kebanyakan pantai-pantai yang aku temui, karang-karang dirusak, bakau-bakau digusur dijadikan tempat wisata. Padahal telah dipahami bersama bahwa keberadaan bakau itu, sangat berarti bagi proses kehidupan ekosistem di pinggir laut.
Tidak ada satu jam, plastik yang dibawah Pak Paijan dari tempat kerjanya, sudah berisi banyak udang “Kok jarang ya..,mungkin karena air pasang”. Ujar Pak Paijan, yang keheranan. Air muara itu setinggi lutut, hanya berbekal lampu senter, udang-udang itu dengan mudah kami temukan, matanya yang merah tamPak semakin menyala kala cahaya senter itu diarahkan ke tubuh mereka, dan dengan sendirinya udang-udang itu berhenti dan menggali pasir. “Senter dimatikan, dan chek,”. Ajar Pak Paijan kepada kami, yang baru pertama kali menangkap udang.
“Sudah, ayo kita pulang,”. Ajak Pak Paijan. Cukup beberapa saat saja, kita telah mendapatkan banyak udang buat lauk, di pagi hari. –ternyata alam memang menyediakan segalanya, untuk keperluan hidup manusia, sayangnya terkadang manusia rakus, kerusakan pun tidak bisa dielakkan, akhirnya manusia sendiri yang mengalami kesulitan, karena jumlah manusia terus bertambah, sedang alat pemenuhan hidupnya terbatas-. Untuk itu, sudah menjadi kewajiban bagi kita semua, menjaga alam. Bersahabat dengan hidup, bersahabat dengan alam.
Mungkin karena kecapekkan, kami, Pak Budi dan Pak Paijan bangun kesiangan. “Kalau tidak kesiangan, tadi bisa lihat banteng atau babi hutan, yang biasa bergerombol”. Kata Pak Paijan
“Mau kemana Pak Budi,?” Tanya kami. “Mau turun dulu”! timpal Pak Budi. Pak Budi dan Pak Paijan kerja sip-sipan (kerja paruh waktu), jadi tidak mesti ada disana. Rumah keluarga Pak Budi sendiri ada di Jenggawa, walaupun sebenarnya dia asli Klaten Jawa Tengah.
Sesaat kemudian, kami pun berpamit ke Pak Paijan juga, mau langsung pulang, kita tidak berharap kemalaman dijalan, tetapi sebelum itu kami ke pantai dahulu, melanjutkan rencana kami mancing. Tetapi sayangnya kami tidak membawa umpan, kami kira kita bisa membeli umpan disana, tetapi ternyata tidak ada yang menjual. Masyarakat yang biasanya mancing, biasanya memakai umpan udang, sedang untuk mendapatkannya saat malam hari, seperti yang kami lakukan dengan Pak Paijan tadi malam. Kami tidak terpikirkan sama sekali, untuk meniyisahkan beberapa ekor untuk umpan, semuanya sudah digoreng untuk sarapan.
Jadi gagal lagi, acara mancingku, gara-gara tidak ada persiapan yang matang. Tetapi tidak apalah, semuanya telah tergantikan satu tambahan pengalaman, yang belum tentu bisa kutemui kembali. Sebab proses perjalanan hidup hanya sekali, dalam mengarungi detik-detik usiaku.[DBT]

Oleh: Badrul Tamam