Kamis, 28 Februari 2008

Pesan Sunan Muria

Perubahan keadaan itu atas kehendak tuhan
Tiada kesaksian yang menyamai kepastian tuhan,
Karena tidak ada yang dapat menggagalkan kepastian tuhan.
Benar yang berasal dari tuhan itu apabila tiada sifat angkara murka dan tidak suka menyengsarakan orang lain.
Didunia ini ada dua macam kebenaran yaitu benar dihadapan tuhan dan benar dihadapan penguasa.

Kepada Pemilik Keabadian

Oh..pemilik keabadian
Palung itu teramat dalam tuk ku selami
Harus aku cari kemana kekuatan itu
Sedang raga tempat jiwa ini, terkikis habis, oleh angin, api, air
Udara…dari sukma pelapis jiwa
Bergelayut bebas kusibakkan dera
Didekat pemandian dekat sanubari
Nurani,

Benarkah kebenaran itu,.. masih
Sedikit kau lekatkan, pada
Raga, sukma, jiwa dan cahaya
Dari wakil-wakil keberadaan yang ada

Tuhan maafkan aku-ampuni aku
Aku tidak takut pada nerakamu
Yang aku takutkan hanyalah wajahmu,
Berpaling...berpaling….

Bukan ku tak sadar, dalam
Melakukan semua pengingkaran terhadapmu, tuhan
Tetapi jalan yang aku lewati
Terlihat samar dan membutahkan.
Temukan aku
Tempatkan aku
Disana…
Diperaduanmu….

Cinta itupun Berkata

…….tidak ada salahnya aku berbicara tentang cinta dan merenungkannya, tetapi malu melengkapinya manakala aku sampai pada cinta itu sendiri.
Cinta tak terjangkau oleh kata-kata dan pendengaran kita
Cinta adalah tautan yang tak terukur kedalamanya
Coba kau hitung, berapa banyak air di sungai? Dalam lautan itu tujuh sungai tiada tara.
Cinta tak dapat dituangkan dalam dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan, buku-buku dan tulisan
Apapun yang dikatakan orang (tentang cinta)
Kulit semata; cinta adalah sebuah rahasia yang tidak terungkap.
Cukup! Sampai kapanpun, kau akan terpancang pada lidah dan kata-kata, cinta begitu banyak tamsilan yang beberapa diseberang kata-kata.
Seseorang bertannya apakah cinta? Jawabanku “bertanyalah tentang makna-makna”
Oh..kau yang telah mendengarkan pembicaraan tentang cinta, tetaplah cinta.

Dikutip darikarya
William Chitik tentang jalan cinta
Jalaluddin Rumi

Senin, 11 Februari 2008

Selain tuhanku


ibu, aku berjanji!! setiap tetes-tetes keringatmu akan ku ubah menjadi tinta-tinta, lalu akan ku buat menulis makna-makna..

Nevermind


biarkan aku berada tanpa kesadaran kawan
karena kesadaran itu semakin menjadikanku bodoh
tak usah kau bertanya, tentang aku
keberadaan dan ketiadaanku sama saja, sama saja bagimu.

Kami dan kalian

Kami anak-anak penderitaan, sedang
Kalian anak-anak keriaan. Kamilah
Anak penderitaan dan penderitaan adalah
Bayangan tuhan yang tidak
Bersemayam dihati yang jahat

Kami adalah ruh yang menderita dan
Penderitaan terlalu agung untuk
Berdiam dihati kerdil. Bila kalian tertawa,
Kami menatap dan menangsi; dan
Siapa yang pernah dibakar dan disuci
Meski sesekali oleh airmatanya sendiri
Selamanya akan tetap suci.

Kalian tak memahami kami, tapi kai
Berikan simpati kami pada kalian.
Kalian hanyut bersama derasnya
Sungai kehidupan, dan kalian tak
Menghiraukan kami; sementara
Kami duduk ditepian sungai, melihat
Kalian dan mendengar suara kalian
Yang ganjil

Kami tak menagkap jeritan kami,
Karena bisingnya hari telah membuat
Telingahmu tuli, tersumbat kerasnya
Gumpalan dari tahun-tahun kebodohan
Kalian; namun kami mendengar
Nyanyian-nyanyian kalian, karena bisikan
Malam batin membukakan nurani kami,
Kami melihat kalian berdiri
Dibawah ujung jemari cahaya, tapi
Kalian tak bisa melihat kami, karena
Kami tinggal didalam
Kegelapan yang mencerahkan.

Kami anak penderitaan, kami para penyair
Para nabi dan para pemusik. Kami
Menenun busana sang dewi dari
Benang hati kami, dan kami penuhi
Tangan para bidadari dengan bijian nurani kami

Kalian anak-anak pemburu
Dunia. Kalian tempatkan hati dalam
Genggaman kehampaan, karena
Sentuhan tangan kehambaan begitu
Lembut dan mengundang selera.

Kalian tinggal dalam rumah kebodohan,
Kerena dirumah itu tak ada cermin untuk
mengaca bagi jiwa-jiwa kalian.

Kami menghela nafas, dan tarikan itu lahir
Bisikan mesra bunga-bunga
Gemerisik dedaunan dan gemerisik
Anak sungai

Ketika kalian menghina kami, tingkahmu
Berbaur dengan penghancuran tengkorak,
Gemeretak reruntuhan dan ratapan
Dari jurang dalam. Jika kami menangis
Airmata menetes kedalam jantung
Kehidupan, bagai embun menetes
Dari pelupuk malam, kedalam
Jantung fajar; dan bila kalian tertawa,
Tawa sinis kalian menebar racun
Bagai bisa ular meracuni luka.

Kami menangis, menaruh simpati pada
Simiskin gelandangan dan janda
Yang berduka; tapi kalian bersukaria
Tersenyu memandang emas
Yang gemerlapan.

Kami menagis, karena kami mendengar
Isakan kaum miskin dan ratapan
Silemah yang tertindas; tapi kalian
Terbahak, karena tiada yang kalian
Dengar selain bunyi cawan anggur
Yang berdenting.

Kami menangis, karena saat ini ryh kami
Tercerai dari yang ilahi, tapi kalian tertawa
Karena tubuh kalian terikat oleh
Kebodohan dunia.

Kami anak penderitaan, sedang kalian
Anak-anak kegembiraan….biarkanlah
Kami mengukur buah penderitaan
Kami berbandin tajam dengan
Tingkat keriangan didepan
Kesaksian sang matahari………

Kalian telah mendirikan kota babilonia
Diatas tulang-tulang di lemah,
Dan menegakkan istanan niniveh diatas kuburan simiskin

Kini babilonia hanyalah tapak kaki
Unta padang pasir yang bergerak digurun,
Dan sejarah berulang kembali
Pada bangsa-bangsa yang merestui kami
Dan selalu menghujat kalian.

Kami telah mengukir isytar dari
Pualam utuh dan membuatnya
Gemetar dalam keutuhannya
Dan berbicara melalui kebisuannya.

Kami telah menggubah dan
Mendendangkan nyanyian nahawand yang
Menyejukkan pada dawai-dawai,
Penyebab ruh pujaan menghampiri
Cakrawala. Endekati kami; memuja
Sang pencipta dengan kata dan perbuatan;
Kata-kata menjelma firman tuhan,
Dan perbuatan menjelma kasih
Bagai para bidadari

Kalian mengiuti jejak kesenangan
Yang cakar tajamnya telah mencapai
Ribuan tumbal gelanggang pembantaian
Roma dan antioch…sedang kami
Mengikuti jejak keheningan, yang jemari lembutnya telah menenun
Buku illiad dan kitab ayub serta
Ratapan jeremiah.

Kalian berlutut dibawah sang nafsu,
Yan gelorahnya telah mengusir
Ribuan arakan jiwa wanita ke dalalam
Terowongan memalukan
Dan mengerikan…sedang kami memeluk
Keheningan, dalam bayangan keindahan
Hamlet dan hamte menjulang.

Kalian menjilat pantat ketamakan,
Yang tajam pedangnya telah
Menumpahkan ribuan sungai darah…
Sedang kami mencari kebenaran,
Yang uluran tangannya medatangkan
Pengetahuan dan jiwa agung dan lingkaran cahaya

Kami anak-anak penderitaan, sedang
Kalian anak-anak kegembiraan;
Antara dukacita kami dan sukacita kalian
Terbentang jalan setapak liar yang
Bisa dilalui kuda keperkasaan dan
Dilintasi kereta kencanamu.

Kami iba akan kekerdilan kalian,
Sedangkan kalian benci dakan kejayaan
Kami; antara rasa iba kami dan
Kebencian kalian, sang waktu berhenti bertahan.
Kami menghampirimu sebagai teman,
Tapi kalian menyerang kami sebagai
Musuh; antara persahabatan kami
Dan permusuhan kalian, terbentang
Jurang dalam yang dialiri
Darah dan airmata.

Kami menegakkan istana kalian,
Tapi kalian menggali kuburan kami,
Antara kemegahan istana dan suram
Kuburan, kemanusiaan berjalan
Hilir mudik sebagai pengawal
Bersenjata besi.

Kami taburi jalan kalian dengan kembang
Mawar, namun kalian menebarkan
Duri diranjang kami, antara mawar
Dan duri, kebenaran tidur dan dengan
Geliasah. Sejak hari alastu, kalian telah
Memerangi kekuatan kami
Yang lembut dengan kelemahan kalian
Yang kasar; ketika kalian mengungguli
Kami barang sejam, kalian hiruk-pikuk
Meneriakkan kemenagan bagaikan
Katak di air. Namun ketika kami tetap diam
Bagai raksasa yang bungkam.

Kalian hidup dalam kenangan
Manusia-manusia, serupa bangkai
Dimuka bumi; dan kalian tidak menemukan
Seorang kawanpun yang mengubur
Kalian dalam kegelapan ketiadaan
Dan terlupakan oleh yang kalian cari
Dimuka bumi.

Kami anak penderitaan, dan derita
Adalah mega keemasan, menyirami
Umat manusia dengan pengetahuan dan
Kebenaran. Kalian anak-anak
Kegembiraan, betapapun tinggi
Jangkauan keembiraan kalian,
Dengan hokum tuhan ia akan binasa
Dihadapan angina dari surga dan
Diporak-porandakan menjadi kehampaan,
Karena hakekatnya dia tak lain hanyalah
Kabut tipis yang gemetar


(Gibran, Kahlil. 2000.
Lukisan keabadian. Fajar Pustaka: Jogjakarta

Sabtu, 02 Februari 2008

senandung jiwa



Di kedalaman jiwaku ada
Nyanyian tanpa kata - nyanyian yang hidup
Dalam benih-benih hatiku.
Ia menolak bersatu dengan tinta di
Perkamen; ia mengandalkan simpatiku
Pada sebuah jubah dan mengalir,
Tetapi tidak dibibirku.

Bagaimana aku melihatnya? Aku takut ia akan
Bercampur dengan ether dunia;
Kepada siapa ia kunyanyikan? Ia bersarang
Dirumah jiwahku, dalam ketakutan
Kepada telinga pemarah

Ketika kutatap mata batinku
Aku melihat bayangan dari bayanganya
Ketika kusentuh jemariku
Aku merasakan getarannya.

Tindakan tanganku mengikuti
Kehadirannya seperti danau memantulkan
Kemerlip bintang-bintang; air mataku
Menyingkapkannya, secemerlang embun
Mengungkap rahasia mawar

Inilah senandung gubahan dalam renung,
Di hias oleh kesunyian
Di lupakan oleh kenagan
Di lumatkan oleh kebenaran
Di tiruhkan oleh impian
Di pahami oleh cinta
Di sembunyikan oleh kesadaran
Dan dinyanyikan oleh jiwa.

Inilah senandung cinta;
Apakah kain atau esau
Dapat mendendangkannya?

Ia lebih semerbak dari melati;
Suara apa yang dapat mewaadahi?

Ia tersenbunyi seperti rahasia perawan
Dawai apa yang dapat menggetarkannya?

Siapa berani memaduh raungan samudra
Dan dendang lubuk malam?

Siap berani membandingkan prahara
Dengan desah seorang bayi?
Siapa berani meneriakkan
Kehendak hasrat hati?
Manusia mana yang berani menyanyikan
Lagu senandung tuhan?

Dinukil dari karya kahlil gibran (lukisan keabadian)
gibran, Kahlil. 2001. lukisan keabadian. Yogyakarta: Fajar Pustaka